Inspirasi dari Achmad Irfandi Penggagas Kampung Lali Gadget

By Mayawa Gi - September 17, 2023

 

Inspirasi dari Achmad Irfandi Penggagas Kampung Lali Gadget

Gadget semakin pintar, tapi hal ini tidak serta-merta menjadikan penggunanya pintar. Jika mau jujur, berapa banyak orang tua yang memberikan akses gadget terlalu dini pada anak-anak. Alasannya beragam, namun rata-rata karena ingin anaknya anteng.

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 mengungkap fakta mengejutkan. Ternyata, jumlah anak usia dini di Indonesia yang menggunakan gadget mencapai 33,44%. Anak-anak mulai diberikan gadget mulai usia 0-4 tahun (25,5%) dan usia 5-6 tahun (52,76%).

Padahal, terdapat batasan screentime atau durasi terpapar layar elektronik bagi anak-anak yang direkomendasikan WHO. Anak-anak usia di bawah 2 tahun sebaiknya tidak menggunakan gadget terlebih dahulu. Sedangkan batasan screentime menurut WHO untuk anak-anak usia 2-6 tahun maksimal hanya 1 jam per hari dan untuk anak 6-12 tahun yaitu 2 jam per hari.

"Gimana ya, Bun. Kalau enggak dikasih gadget nanti anak saya nangis. Saya jadi enggak bisa beresin pekerjaan rumah," curhat salah seorang ibu di grup Facebook. Alasan tersebut diaminkan ratusan komentar yang juga mengaku melakukan hal yang sama.

Demi anak anteng, memberikan gadget adalah jalan ninja yang "terpaksa" dilakukan. Tentu hal ini sangat disayangkan mengingat ada banyak dampak negatif dari memberikan gadget terlalu dini pada anak-anak. Benarkan hanya gadget yang bisa membuat anak senang? Nanti kita bahas, ya!

Dampak Negatif Gadget bagi Anak-Anak

Bermain gadget memang menyenangkan. Bukan hanya bagi orang dewasa, pun demikian bagi anak-anak. Anak-anak bisa menonton dan mendengarkan lagu-lagu kesukaannya, melihat mainan, dan tayangan animasi favorit.

Namun, memberikan anak gadget secara berlebihan sangat tidak disarankan. Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan RI, berikut dampak negatif gadget bagi anak:

Kurang Tidur

Ketika anak-anak terlalu sering menggunakan gadget, mereka cenderung mengorbankan waktu tidur. Penggunaan yang berlebihan, terutama pada malam hari, dapat membuat anak-anak tetap terjaga hingga larut malam. Ini bisa disebabkan oleh aktivitas seperti bermain game online dengan teman-teman mereka atau menonton video di platform streaming.

Akibatnya, ritme sirkadian atau jam biologis tidur dan bangun terganggu. Hal ini menyebabkan masalah seperti kesulitan berkonsentrasi, kelelahan, dan kinerja akademik yang buruk. Selain itu, tidur yang tidak cukup juga dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan perkembangan otak.

Gangguan pada Mata

Paparan terus-menerus pada layar gadget, terutama dalam kondisi pencahayaan yang buruk, dapat menyebabkan berbagai masalah mata. Mata anak-anak mungkin mengalami ketegangan karena terus-menerus fokus pada layar yang kecil.

Ini bisa menyebabkan gejala seperti mata kering, mata merah, dan sakit kepala. Selain itu, penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan pada anak-anak dapat meningkatkan risiko miopia atau mata rabun jauh. 

Obesitas

Anak-anak yang terlalu lama duduk di depan layar gadget cenderung kurang aktif secara fisik. Aktivitas fisik yang kurang ini dapat berkontribusi pada masalah obesitas pada anak-anak. Ketika mereka lebih memilih untuk bermain game atau menonton televisi daripada bermain di luar rumah atau berolahraga, mereka tidak membakar kalori yang cukup dan risiko penumpukan lemak di tubuh meningkat. Obesitas pada anak-anak dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung.

Gangguan Kinerja Otak

Terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk gadget dapat mengganggu perkembangan kognitif anak-anak. Bahkan jika mereka menggunakan gadget untuk kegiatan pendidikan, jika digunakan secara berlebihan, hal itu dapat mengganggu kemampuan mereka untuk berkonsentrasi, berpikir kreatif, dan memecahkan masalah. Ini bisa mempengaruhi kemampuan mereka untuk memahami dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah, serta kemampuan mereka untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang penting.

Gangguan Kesehatan Mental

Penggunaan gadget yang berlebihan juga dapat berdampak negatif pada kesehatan mental anak-anak. Mereka mungkin terlalu terpencil secara sosial karena lebih tertarik pada interaksi online daripada menghabiskan waktu bersama teman-teman atau anggota keluarga dalam kehidupan nyata. Konten online yang tidak selalu sesuai untuk usia anak-anak juga dapat menimbulkan stres dan kecemasan. Selain itu, tekanan sosial yang muncul di media sosial, seperti perbandingan dengan orang lain atau perundungan online, dapat memiliki dampak serius pada kesehatan mental anak-anak dan remaja.

Penting bagi kita untuk mengambil langkah-langkah proaktif untuk membatasi waktu yang dihabiskan anak-anak di depan gadget, memastikan bahwa mereka mendapatkan tidur yang cukup, mendorong aktivitas fisik yang sehat, dan mengawasi konten yang mereka akses. Pendidikan tentang penggunaan yang bertanggung jawab terhadap teknologi juga penting agar anak-anak dapat mengembangkan keterampilan digital yang sehat dan berimbang.

Kampung Lali Gadget


Kenalan dengan Kampung Lali Gadget

Siapa bilang memberikan gadget adalah satu-satunya cara untuk menyenangkan anak-anak dan membuatnya anteng? Coba kita tengok anak-anak yang tumbuh di era sebelum ada gadget. Mereka bisa bahagia mengisi masa kecil dengan bermain permainan tradisional.

Nah, kalau mau menengok era 1980 atau 1990-an telalu jauh, kita bisa menengok Kampung Lali Gadget (KLG) di Dusun Bendet, Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Di kampung ini anak-anak dan orang tua bisa melakukan kegiatan seru dan melupakan sejenak gadget mereka.

Sebenarnya permainan tradisional itu sangat menarik, disukai anak-anak, serta bisa membuat lali atau lupa untuk bermain gadget. Hanya saja, di era modern ini permainan tradisional hampir punah dan tidak ada yang mengenalkannya pada anak-anak.

Adalah Achmad Irfandi, pemuda yang menggerakkan Kampung Lali Gadget sejak 1 April 2018. Berawal dari keprihatinan terhadap masifnya penggunaan gadget, Irfandi menggagas program konservasi budaya untuk mengangkat permainan tradisional.

Permainan-permainan tradisional yang ada di Kampung Lali Gadget merupakan hasil riset yang dilakukan tim KLG berdasarkan cerita-cerita orang tua maupun riset secara online. Saat ini, setidaknya ada 25 topik permainan yang dikembangkan dan setiap topik terdiri darii tiga sampai empat jenis permainan tradisional.

Setiap pekan akan dihadirkan tema permainan yang berbeda-beda di Kampung Lali Gadget. Misalnya pekan pertama tema buah-buahan, pekan kedua tema batu-batuan, dan seterusnya. Tidak heran jika setiap harinya puluhan orang tua dan anak-anak mengunjungi Kampug Lali Gadget untuk bermain permainan tradisional. Karena memang seseru itu!

Achmad Irfandi sendiri tidak menyangka kalau gagasan Kampung Lali Gadget ini mendapatkan respon yang luar biasa dari masyarakat di tengah gempuran teknoogi digital ini. Banyak testimoni positif dari orang-orang yang telah berkunjung dan ikut bermain di Kampung Lali Gadget. Anak-anak menjadi mengalami perbaikan perilaku dan tidak terlalu bergantung pada gadget lagi.

Achmad Irfandi dan Kampung Lali Gadget

Tentu Achmad Irfandi tidak bisa bergerak sendirian. Beliau merangkul kawan-kawan pemuda di Desa Pagerngumbuk dan pemuda di Sidoarjo untuk bersama-sama mengembangkan Kampung Lali Gadget. Para pemuda ini diberdayakan untuk merencanakan, mendampingi, dan menjadi fasilitator edukasi di Kampung Lali Gadget.

Kehadiran KLG bukan berarti menampik penggunaan gadget. Tidak dapat dipungkiri bahwa gadget juga memiliki manfaat yang besar bagi kehidpan manusia. Akan tetapi, seyogianya kita bisa menggunakan gadget secara bijak dan proporsional dengan tetap mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat lainnya.

Selain memainkan permainan tradisional, terdapat beberapa aktivitas seru lainnya yang digagas Kampung Lali Gadget. Beberapa programnya antara lain edukasi budaya, kearifan lokal, olahraga, serta edukasi satwa. Atas dedikasi dan kepeduliannya tersebut, Achmad Irfandi menerima Apresiasi 12th Semangat Astra Terpadu atau SATU Indonesia Awards tahun 2021 Bidang Pendidikan.

SATU Indonesia Awards merupakan langkah nyata Grup Astra untuk berperan aktif dan berkontribusi meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia melalui karsa, cipta, dan karya terpadu dalam produk dan layanan yang unggul serta kontribusi sosial berkelanjutan. SATU Indonesia dicanangkan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Pada 2023 ini, perhelatan SATU Indonesia menginjak tahun ke-14.

Kisah Achmad Irfandi dan Kampung Lali Gadget dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk bergerak menuju Indonesia yang lebih baik. Apapun kemampuan dan bidang yang kita geluti saat ini, kita bisa mulai berkontribusi demi kebermanfaatan yang lebih besar bagi masa depan bangsa dan negara.


Sumber:

http://astra.bkb.digital/satu-indonesia-awards-2021/agar-generasi-muda-tidak-kecanduan-gawai/

https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2518/yuk-antisipasi-dampak-negatif-gadget-bagi-anak

https://www.aoa.org/news/clinical-eye-care/public-health/screen-time-for-children-under-5

https://jatim.solopos.com/cerita-achmad-irfandi-gagas-kampung-lali-gadget-agar-anak-tak-kecanduan-gawai-1730600

Sumber foto:

http://astra.bkb.digital/satu-indonesia-awards-2021/agar-generasi-muda-tidak-kecanduan-gawai/

  • Share:
  • facebook

You Might Also Like

0 comments